Today Article
Print Halaman Ini
Recent Article

Save Rohingya

Assalaamu'alaykum warohmatullohi wabarokatuh,

Kepada Para Admin Grup, Izinkan Kami dari Yayasan Nurul Qur'an Sumbar ikut membantu menshare Info Donasi Utk Pengungsi Rohingya di Aceh. Kami membuka infaq melalui rekening Yayasan ini atas permintaan banyak pihak terkhusus kepada para perantau Minang yang ingin ada andil dari Yayasan di Ranah Minang dalam hal bantuan kemanusiaan ini. Insya Alloh dalam hal penyaluran kelapangan bila memungkinkan kami akan mengirimkan relawan langsung dari Padang dan bila tidak memungkinkan maka kami akan bekerjasama dengan Tim Kemanusiaan Rodja dan Peduli Muslim..

PEMBUKAAN DONASI : 23 Mei - 5 Juni 2015.
--------------------------------------
Bagi yang ingin ikut berpartisipasi dalam membantu kaum muslimin Rohingya di Aceh, silahkan mengirimkan bantuan ke rekening yayasan berikut ini (YNQS: Yayasan Nurul Qur'an Sumbar):
Bank Syariah Mandiri(kode bank:451)= 7084570178, a/n YNQS
Konfirmasi donasi ke: 085364575752

Laporan Donasi:
29/5/2015 : Rp.3.000.000,- Hamba Alloh, Bekasi
28/5/2015 : Rp.500.000,- Hamba Alloh, Jakarta Selatan
28/5/2015 : Rp.1.000.000,- Muhammad Lestariyono, Kupang, NTT
27/5/2015 : Rp.100.000,- Hamba Alloh, Bekasi
27/5/2015 : Rp.300.000,- Hamba Alloh, Bekasi
26/5/2015 : Rp.50.000,- Hamba Alloh, Tanjung Pinang
26/5/2015 : Rp.1.000.000,- Ibu Hanim Rahayu, Pringsewu Lampung
26/5/2015 : Rp.1.000.000,- Hamba Alloh, Cilegon
25/5/2015 : Rp.200.000,- Hamba Alloh
25/5/2015 : Rp.250.000,- Hamba Alloh
24/5/2015 : Rp.200.000,- Hamba Alloh, Muara Enim
23/5/2015 : Rp.1.000.000,- Bpk. Zulnaidi, Dumai

Total: Rp.8.600.000,-

Jazaakumullohu khoiron
------------------------------------------
Website: www.nurulquransumbar..com {hapus satu titik sebelum com]
Email: nurulquransumbar@yahoo.com
FB FanPage: Yayasan Nurul Quran Sumbar
FB Grup: Yayasan Nurul Qur'an Sumbar

0 komentar

Kreasi Sendiri

Pegecatan hiasan dinding TKIT Nurul Qur'an. Masih dalam Tahap belajar...





0 komentar

Program Panduan Belajar Membaca Latin

Yayasan Nurul Qur'an Membuka Les Membaca Untuk Umum tingkat SD.
 Murid les membaca Latin dari siswa kelas MIN Padang




0 komentar

Alam Takambang Jadi Guru

Belajar dari Bermain TKIT Nurul Qur'an,,, Alam Takambang Jadi Guru...


0 komentar

Penerimaan Murid Baru TA 2015/2016

TK / SD IT Nurul Qur'an Masih membuka pendaftaran murid baru sampai 12 juni 2015.


0 komentar

Salah Satu Nyata Manfaat Hafalan Al Qur'an

Begitu besarnya manfaat menghafal Al Qur'an dan sudah banyak terbukti hasilnya buat mengatasi berbagai masalah biidznillah..
Seorang Anak yang belum lancar bicara dengan selalu mendengarkan hafalan Al Qur'an Murid TKIT Nurul Qur'an, Alhamdulillah tidak sampai 6 bulan sudah bicara dengan lancar dan juga mempunyai hafalan2 dari surat pendek.. yang mana hafalan ayat-ayatnya dibaca dengan tertib (urut). Umur 3 tahun. Tips buat ibu2: ajarilah anak-anak dengan hafalan qur'an maka dengan izin Alloh anak2 kita akan bisa lancar bicara...
0 komentar

Infaq Pendirian SDIT Nurul Qur'an

Assalaamu'alaykum warohmatullohi wabarokatuh,

Kepada Para Admin Grup, Izinkan Kami dari Yayasan Nurul Qur'an Sumbar membuka Info Donasi Untuk Pendirian SD Tahfidzul Qur'an di Padang. Alamat Yayasan ini di: Komplek Arai Pinang C4, RT.4 / RW.3, Kel. Tabing Banda Gadang, Kec. Nanggalo, Kota Padang. Telpon: 085364575752.
Berhubung Dana Pendirian Belum Mencukupi maka, PEMBUKAAN DONASI kami perpanjang sampai 13 Juni 2015.

Laporan Donasi:
27/5/2015 : Rp.105.000,- Hamba Alloh
27/5/2015 : Rp.100.000,- Hamba Alloh
27/5/2015 : Rp.100.000,- Hamba Alloh
26/5/2015 : Rp.200.000,- Hamba Alloh, Tanjung Pinang
26/5/2015 : Rp.100.000,- Hamba Alloh
26/5/2015 : Rp.500.000,- Hamba Alloh, Padang
25/5/2015 : Rp.30.000,- Hamba Alloh
24/5/2015 : Rp.0,-
23/5/2015 : Rp.0,-
22/5/2015 : Rp.0,-
21/5/2015 : Rp.0,-
20/5/2015 : Rp.0,-
19/5/2015 : Rp.300.000,- Hamba Alloh
19/5/2015 : Rp.100.000,- Hamba Alloh
19/5/2015 : Rp.1.450.000,- Hamba Alloh
18/5/2015 : Rp.1.000.000,- Hamba Alloh
18/5/2015 : Rp.250.000,- Hamba Alloh
17/5/2015 : Rp.0,-
16/5/2015 : Rp.300.000,- Hamba Alloh
15/5/2015 : Rp.2.000.000,- Hamba Alloh
15/5/2015 : Rp.150.000,- Hamba Alloh
15/5/2015 : Rp.30.000,- Hamba Alloh
15/5/2015 : Rp.1.000.000,- Hamba Alloh
15/5/2015 : Rp.50.000,- Hamba Alloh
14/5/2015 : Rp.0,-
13/5/2015 : Rp.0,-
12/5/2015 : Rp.1.500.000,- Hamba Alloh, Jakarta
11/5/2015 : Rp.100.000,- Hamba Alloh
10/5/2015 : Rp.0,-
9/5/2015 : Rp.1.000.000,- Hamba Alloh, Bogor
9/5/2015 : Rp.1.000.000,- Hamba Alloh, Padang
9/5/2015 : Rp.100.000,- Bpk. Fadyan, Solok
8/5/2015 : Rp.500.000,- Hamba Alloh
8/5/2015 : Rp.6.650.000,- Ibu. Eri, Jakarta
8/5/2015 : Rp.4.600.000,- Bpk. Chaidir Rahimahulloh, Bogor
7/5/2015 : Rp.0,-
6/5/2015 : Rp.300.000,- Hamba Alloh
6/5/2015 : Rp.200.000,- Hamba Alloh
5/5/2015 : Rp.0,-
4/5/2015 : Rp.100.000,- Hamba Alloh
3/5/2015 : Rp.0,-
2/5/2015 : Rp.0,-
1/5/2015 : Rp.0,-
Rekap Bulan April: Rp.13.937.800,-
Rekap Bulan Maret: Rp.22.860.000,-

Total: Rp.60.612.800,-

Kekurangan Biaya: 84.300.000 - 60.612.800 = Rp. 23.687.200,-

Website: www.nurulquransumbar..com {hapus satu titik sebelum com]
Email: nurulquransumbar@yahoo.com
FB FanPage: Yayasan Nurul Quran Sumbar
FB Grup: Yayasan Nurul Qur'an Sumbar
0 komentar

Peduli Rohingya

Assalaamu'alaykum warohmatullohi wabarokatuh,

Kepada Para Admin Grup, Izinkan Kami dari Yayasan Nurul Qur'an Sumbar ikut membantu menshare Info Donasi Utk Pengungsi Rohingya di Aceh. Kami membuka infaq melalui rekening Yayasan ini atas permintaan banyak pihak terkhusus kepada para perantau Minang yang ingin ada andil dari Yayasan di Ranah Minang dalam hal bantuan kemanusiaan ini. Insya Alloh dalam hal penyaluran kelapangan bila memungkinkan kami akan mengirimkan relawan langsung dari Padang dan bila tidak memungkinkan maka kami akan bekerjasama dengan Tim Kemanusiaan Rodja dan Peduli Muslim..

PEMBUKAAN DONASI : 23 Mei - 5 Juni 2015.
--------------------------------------
Bagi yang ingin ikut berpartisipasi dalam membantu kaum muslimin Rohingya di Aceh, silahkan mengirimkan bantuan ke rekening yayasan berikut ini (YNQS: Yayasan Nurul Qur'an Sumbar):
Bank Syariah Mandiri(kode bank:451)= 7084570178, a/n YNQS
Konfirmasi donasi ke: 085364575752

Laporan Donasi:
27/5/2015 : Rp.100.000,- Hamba Alloh, Bekasi
27/5/2015 : Rp.300.000,- Hamba Alloh, Bekasi
26/5/2015 : Rp.50.000,- Hamba Alloh, Tanjung Pinang
26/5/2015 : Rp.1.000.000,- Ibu Hanim Rahayu, Pringsewu Lampung
26/5/2015 : Rp.1.000.000,- Hamba Alloh, Cilegon
25/5/2015 : Rp.200.000,- Hamba Alloh
25/5/2015 : Rp.250.000,- Hamba Alloh
24/5/2015 : Rp.200.000,- Hamba Alloh, Muara Enim
23/5/2015 : Rp.1.000.000,- Bpk. Zulnaidi, Dumai

Total: Rp.4.100.000,-

Jazaakumullohu khoiron
------------------------------------------
Website: www.nurulquransumbar..com {hapus satu titik sebelum com]
Email: nurulquransumbar@yahoo.com
FB FanPage: Yayasan Nurul Quran Sumbar
FB Grup: Yayasan Nurul Qur'an Sumbar

0 komentar

EMBUKAAN DONASI kami perpanjang sampai 13 Juni 2015

Assalaamu'alaykum warohmatullohi wabarokatuh,

Kepada Para Admin Grup, Izinkan Kami dari Yayasan Nurul Qur'an Sumbar membuka Info Donasi Untuk Pendirian SD Tahfidzul Qur'an di Padang. Alamat Yayasan ini di: Komplek Arai Pinang C4, RT.4 / RW.3, Kel. Tabing Banda Gadang, Kec. Nanggalo, Kota Padang. Telpon: 085364575752.
Berhubung Dana Pendirian Belum Mencukupi maka, PEMBUKAAN DONASI kami perpanjang sampai 13 Juni 2015.

Laporan Donasi:
25/5/2015 : Rp.0,-
24/5/2015 : Rp.0,-
23/5/2015 : Rp.0,-
22/5/2015 : Rp.0,-
21/5/2015 : Rp.0,-
20/5/2015 : Rp.0,-
19/5/2015 : Rp.300.000,- Hamba Alloh
19/5/2015 : Rp.100.000,- Hamba Alloh
19/5/2015 : Rp.1.450.000,- Hamba Alloh
18/5/2015 : Rp.1.000.000,- Hamba Alloh
18/5/2015 : Rp.250.000,- Hamba Alloh
17/5/2015 : Rp.0,-
16/5/2015 : Rp.300.000,- Hamba Alloh
15/5/2015 : Rp.2.000.000,- Hamba Alloh
15/5/2015 : Rp.150.000,- Hamba Alloh
15/5/2015 : Rp.30.000,- Hamba Alloh
15/5/2015 : Rp.1.000.000,- Hamba Alloh
15/5/2015 : Rp.50.000,- Hamba Alloh
14/5/2015 : Rp.0,-
13/5/2015 : Rp.0,-
12/5/2015 : Rp.1.500.000,- Hamba Alloh, Jakarta
11/5/2015 : Rp.100.000,- Hamba Alloh
10/5/2015 : Rp.0,-
9/5/2015 : Rp.1.000.000,- Hamba Alloh, Bogor
9/5/2015 : Rp.1.000.000,- Hamba Alloh, Padang
9/5/2015 : Rp.100.000,- Bpk. Fadyan, Solok
8/5/2015 : Rp.500.000,- Hamba Alloh
8/5/2015 : Rp.6.650.000,- Ibu. Eri, Jakarta
8/5/2015 : Rp.4.600.000,- Bpk. Chaidir Rahimahulloh, Bogor
7/5/2015 : Rp.0,-
6/5/2015 : Rp.300.000,- Hamba Alloh
6/5/2015 : Rp.200.000,- Hamba Alloh
5/5/2015 : Rp.0,-
4/5/2015 : Rp.100.000,- Hamba Alloh
3/5/2015 : Rp.0,-
2/5/2015 : Rp.0,-
1/5/2015 : Rp.0,-
Rekap Bulan April: Rp.13.937.800,-
Rekap Bulan Maret: Rp.22.860.000,-

Total: Rp.56.377.800,-

Kekurangan Biaya: 84.300.000 - 56.377.800 = Rp. 27.922.200,-

Website: www.nurulquransumbar..com {hapus satu titik sebelum com]
Email: nurulquransumbar@yahoo.com
FB FanPage: Yayasan Nurul Quran Sumbar
FB Grup: Yayasan Nurul Qur'an Sumbar
0 komentar

Donasi Untuk Rohingya

Assalaamu'alaykum warohmatullohi wabarokatuh,

Kepada Para Admin Grup, Izinkan Kami dari Yayasan Nurul Qur'an Sumbar ikut membantu menshare Info Donasi Utk Pengungsi Rohingya di Aceh. Kami membuka infaq melalui rekening Yayasan ini atas permintaan banyak pihak terkhusus kepada para perantau Minang yang ingin ada andil dari Yayasan di Ranah Minang dalam hal bantuan kemanusiaan ini. Insya Alloh dalam hal penyaluran kelapangan bila memungkinkan kami akan mengirimkan relawan langsung dari Padang dan bila tidak memungkinkan maka kami akan bekerjasama dengan Tim Kemanusiaan Rodja dan Peduli Muslim..

PEMBUKAAN DONASI : 23 Mei - 5 Juni 2015.
--------------------------------------
"Mereka saudara saudara kami...!
"mereka keluarga kami...!
"Hancur hati kami melihat kondisi mereka...!
"kami harus menolong mereka....!

Setelah terkatung katung selama 3 bulan 12 hari, akhirnya ratusan pengungsi dari muslim Rohingya dan sebagian kecil pengungsi dari Bangladesh terdampar di perairan aceh Timur....

Suatu yang sangat menyentuh hati adalah bagaimana sambutan masyarakat Aceh melihat saudara saudaranya yang sedang menderita...
sungguh luarbiasa. ...!
Air mata ini sulit ditahan melihat pemandangan ini....

Begitu mereka melihat pengungsi pengungsi ini maka masyarakat berdatangan dengan membawa berbagai macam bantuan, air mineral, makanan, buah buahan, pakaian...

dan mereka mengatakan ini saudara saudara kami...
mereka adalah keluarga kami....
Hancur hati kami melihat kondisi mereka....

Subhanallah....
Ya Allah masih banyak hamba hambaMu yang berhati mulia...
Masih banyak kebaikan pada umat ini...
------------------------------------------
Bagi yang ingin ikut berpartisipasi dalam membantu kaum muslimin Rohingya di Aceh, silahkan mengirimkan bantuan ke rekening yayasan berikut ini (YNQS: Yayasan Nurul Qur'an Sumbar):
Bank Syariah Mandiri(kode bank:451)= 7084570178, a/n YNQS
Konfirmasi donasi ke: 085364575752

Laporan Donasi:
23/5/2015 : Rp.1.000.000,- Bpk. Zulnaidi, Dumai

Total: Rp.1.000.000,-

Jazaakumullohu khoiron
------------------------------------------
Website: www.nurulquransumbar..com {hapus satu titik sebelum com]
Email: nurulquransumbar@yahoo.com
FB FanPage: Yayasan Nurul Quran Sumbar
FB Grup: Yayasan Nurul Qur'an Sumbar
0 komentar

Donasi Sekolah Sunnah di Padang

Kami dari Yayasan Nurul Qur'an Sumbar Saat ini mempunyai program Mendirikan Sekolah Tahfidzul Qur'an di Padang.
Bagi yang ingin ikut berpartisipasi dalam mewujudkan program ini bisa menyalurkan infaqnya ke rekening yayasan berikut ini (YNQS: Yayasan Nurul Qur'an Sumbar):
Bank Syariah Mandiri(kode bank:451)= 7084570178, a/n YNQS
Konfirmasi donasi ke: 085364575752
Pembukaan Donasi di Perpanjang Sampai Sebelum Romadhon
Laporan Donasi:
23/5/2015 : Rp.0,-
22/5/2015 : Rp.350.000,- Hamba Alloh
22/5/2015 : Rp.100.000,- Hamba Alloh
21/5/2015 : Rp.200.000,- Hamba Alloh
20/5/2015 : Rp.0,-
19/5/2015 : Rp.300.000,- Hamba Alloh
19/5/2015 : Rp.100.000,- Hamba Alloh
19/5/2015 : Rp.1.450.000,- Hamba Alloh
18/5/2015 : Rp.1.000.000,- Hamba Alloh
18/5/2015 : Rp.250.000,- Hamba Alloh
17/5/2015 : Rp.0,-
16/5/2015 : Rp.300.000,- Hamba Alloh
15/5/2015 : Rp.2.000.000,- Hamba Alloh
15/5/2015 : Rp.150.000,- Hamba Alloh
15/5/2015 : Rp.30.000,- Hamba Alloh
15/5/2015 : Rp.1.000.000,- Hamba Alloh
15/5/2015 : Rp.50.000,- Hamba Alloh
14/5/2015 : Rp.0,-
13/5/2015 : Rp.0,-
12/5/2015 : Rp.1.500.000,- Hamba Alloh, Jakarta
11/5/2015 : Rp.100.000,- Hamba Alloh
10/5/2015 : Rp.0,-
9/5/2015 : Rp.1.000.000,- Hamba Alloh, Bogor
9/5/2015 : Rp.1.000.000,- Hamba Alloh, Padang
9/5/2015 : Rp.100.000,- Bpk. Fadyan, Solok
8/5/2015 : Rp.500.000,- Hamba Alloh
8/5/2015 : Rp.6.650.000,- Ibu. Eri, Jakarta
8/5/2015 : Rp.4.600.000,- Bpk. Chaidir Rahimahulloh, Bogor
7/5/2015 : Rp.0,-
6/5/2015 : Rp.300.000,- Hamba Alloh
6/5/2015 : Rp.200.000,- Hamba Alloh
5/5/2015 : Rp.0,-
4/5/2015 : Rp.100.000,- Hamba Alloh
3/5/2015 : Rp.0,-
2/5/2015 : Rp.0,-
1/5/2015 : Rp.0,-
Rekap Bulan April: Rp.13.937.800,-
Rekap Bulan Maret: Rp.22.860.000,-

Total: Rp.57.027.800,-

Kekurangan Biaya: 84.300.000 - 57.027.800 = Rp. 27.272.200,-

Website: www.nurulquransumbar..com {hapus satu titik sebelum com]
Email: nurulquransumbar@yahoo.com
FB FanPage: Yayasan Nurul Quran Sumbar
FB Grup: Yayasan Nurul Qur'an Sumbar

0 komentar

Pelajaran CaLisTung TKIT Nurul Qur'an

Walaupun sebagian mengatakan CaLisTung tidak boleh diajarkan di TK karena pelajaran tersebut diajarkan di Sekolah Dasar. Namun kenyataannya banyak SD yang menuntut alumni TK sudah bisa Membaca, Menulis dan Berhitung.
Makanya kami berupaya mengajarkan pelajaran ini dengan tetap mengedapankan Fun Learning.





0 komentar

Donasi Pendirian SD Tahfidzul Qur'an di Padang

Donasi Pendirian SD Tahfidzul Qur'an di Padang
Laporan Donasi:
20/5/2015 : Rp.0,-
19/5/2015 : Rp.300.000,- Hamba Alloh
19/5/2015 : Rp.100.000,- Hamba Alloh
19/5/2015 : Rp.1.450.000,- Hamba Alloh
18/5/2015 : Rp.1.000.000,- Hamba Alloh
18/5/2015 : Rp.250.000,- Hamba Alloh
17/5/2015 : Rp.0,-
16/5/2015 : Rp.300.000,- Hamba Alloh
15/5/2015 : Rp.2.000.000,- Hamba Alloh
15/5/2015 : Rp.150.000,- Hamba Alloh
15/5/2015 : Rp.30.000,- Hamba Alloh
15/5/2015 : Rp.1.000.000,- Hamba Alloh
15/5/2015 : Rp.50.000,- Hamba Alloh
14/5/2015 : Rp.0,-
13/5/2015 : Rp.0,-
12/5/2015 : Rp.1.500.000,- Hamba Alloh, Jakarta
11/5/2015 : Rp.100.000,- Hamba Alloh
10/5/2015 : Rp.0,-
9/5/2015 : Rp.1.000.000,- Hamba Alloh, Bogor
9/5/2015 : Rp.1.000.000,- Hamba Alloh, Padang
9/5/2015 : Rp.100.000,- Bpk. Fadyan, Solok
8/5/2015 : Rp.500.000,- Hamba Alloh
8/5/2015 : Rp.6.650.000,- Ibu. Eri, Jakarta
8/5/2015 : Rp.4.600.000,- Bpk. Chaidir Rahimahulloh, Bogor
7/5/2015 : Rp.0,-
6/5/2015 : Rp.300.000,- Hamba Alloh
6/5/2015 : Rp.200.000,- Hamba Alloh
5/5/2015 : Rp.0,-
4/5/2015 : Rp.100.000,- Hamba Alloh
3/5/2015 : Rp.0,-
2/5/2015 : Rp.0,-
1/5/2015 : Rp.0,-
Rekap Bulan April: Rp.13.937.800,-
Rekap Bulan Maret: Rp.22.860.000,-

Total: Rp.59.477.800,-

Kekurangan Biaya: 84.300.000 - 59.477.800 = Rp. 24.822.200,-
Donasi dapat disalurkan ke rekening yayasan berikut ini (YNQS: Yayasan Nurul Qur'an Sumbar):
Bank Syariah Mandiri(kode bank:451)= 7084570178, a/n YNQS
Konfirmasi donasi ke: 085364575752
0 komentar

Donasi Pendirian SD Tahfidzul Qur'an di Padang


Donasi Pendirian SD Tahfidzul Qur'an di Padang
Laporan Donasi:
19/5/2015 : Rp.0,-
18/5/2015 : Rp.0,-
17/5/2015 : Rp.0,-
16/5/2015 : Rp.300.000,- Hamba Alloh
15/5/2015 : Rp.2.000.000,- Hamba Alloh
15/5/2015 : Rp.150.000,- Hamba Alloh
15/5/2015 : Rp.30.000,- Hamba Alloh
15/5/2015 : Rp.1.000.000,- Hamba Alloh
15/5/2015 : Rp.50.000,- Hamba Alloh
14/5/2015 : Rp.0,-
13/5/2015 : Rp.0,-
12/5/2015 : Rp.1.500.000,- Hamba Alloh, Jakarta
11/5/2015 : Rp.100.000,- Hamba Alloh
10/5/2015 : Rp.0,-
9/5/2015 : Rp.1.000.000,- Hamba Alloh, Bogor
9/5/2015 : Rp.1.000.000,- Hamba Alloh, Padang
9/5/2015 : Rp.100.000,- Bpk. Fadyan, Solok
8/5/2015 : Rp.500.000,- Hamba Alloh
8/5/2015 : Rp.6.650.000,- Ibu. Eri, Jakarta
8/5/2015 : Rp.4.600.000,- Bpk. Chaidir Rahimahulloh, Bogor
7/5/2015 : Rp.0,-
6/5/2015 : Rp.300.000,- Hamba Alloh
6/5/2015 : Rp.200.000,- Hamba Alloh
5/5/2015 : Rp.0,-
4/5/2015 : Rp.100.000,- Hamba Alloh
3/5/2015 : Rp.0,-
2/5/2015 : Rp.0,-
1/5/2015 : Rp.0,-
Rekap Bulan April: Rp.13.937.800,-
Rekap Bulan Maret: Rp.22.860.000,-

Total: Rp.56.377.800,-
Kekurangan Biaya: 84.300.000 - 56.377.800 = Rp. 27.922.200,-
Donasi dapat disalurkan ke rekening yayasan berikut ini (YNQS: Yayasan Nurul Qur'an Sumbar):
Bank Syariah Mandiri(kode bank:451)= 7084570178, a/n YNQS
Konfirmasi donasi ke: 085364575752
0 komentar

Peduli Rohingya

Assalaamu'alaykum warohmatullohi wabarokatuh,

Kami dari Yayasan Nurul Qur'an Sumbar ikut membantu menshare Info Donasi Utk Pengungsi Rohingya di Aceh.
------------------------------------
Laporan Kegiatan Hari Kemaren 18 Mei 2015.
Misi Kemanusiaan Ahlu Sunnah Wal Jamaah Untuk Muslim Rohingya....

Kamp pengungsian yang terletak di pelabuhan Kuala Langsa Kota Langsa menampung sekitar 677 orang pengungsi, terdiri dari WNA Myanmar :
1. 117 laki laki.
2. 76 wanita.
3. 63 anak anak.
4. 421 WNA Bangladesh...

Semuanya ditampung di tempat yang sama dan menerima perlakuan yang sama juga...

Demikian juga masyarakat kota Langsa sangat antusias sekali untuk membantu saudara saudaranya muslim mereka dengan apa saja yang mereka bisa bantu...

Tak luput juga Tim Kemanusiaan Radio dan TV Rodja yang bekerjasama dengan Peduli Muslim ikut berperan aktif dalam kegiatan kemanusiaan ini dengan meyalurkan bantuan kemanusiaan untuk mereka...

Semoga bantuan yang telah disalurkan dari para donatur bisa sedikit meringankan beban saudara saudara kita disana...

Dan semoga Allah membalas amal kebaikan ini kepada para donatur dengan balasan yang berlipat ganda...
Wallahu Waliyyu Taufiq...

Bagi yang ingin ikut berpartisipasi dalam membantu kaum muslimin Rohingya di Aceh, silakan bisa mengirimkan bantuan ke:
Bank Syari'ah Mandiri cabang Cibubur
Nomor rekening: 756 1616 005
Atas nama: Yayasan Cahaya Sunnah
Kode Bank: 451
Jazakumullahu khairan
FB Radio Rodja 756 AM
0 komentar

Donasi Utk Pengungsi Rohingya di Aceh

Assalaamu'alaykum warohmatullohi wabarokatuh,

Kepada Para Admin Grup, Izinkan Kami dari Yayasan Nurul Qur'an Sumbar ikut membantu menshare Info Donasi Utk Pengungsi Rohingya di Aceh.

Misi Kemanusiaan Ahlu Sunnah Wal Jamaah Untuk Muslim Rohingya...

Alhamdulillah...
Tim Kemanusiaan Ahlu Sunnah Wal Jamaah sudah sampai di Kota Langsa sekitar pukul 4 pagi dan insya Allah pagi ini akan langsung menuju lokasi pengungsian di pelabuhan Kuala Langsa Kota Langsa...

Bantuan kemanusiaan ini berasal dari kaum muslimin Indonesia melalui Peduli Muslim dan juga pendengar Radio dan pemirsa TV Rodja.

Sesuai permintaan korlap di lokasi pengungsian maka bantuan ini berupa sarung,mukena,handuk,selimut dan peralatan MCK yang diperuntukkan bagi sekitar 700 pengungsi...

Dan masih banyak lagi pengungsi muslim Rohingya yang tersebar di beberapa kota di Aceh yang sangat membutuhkan bantuan dan dukungan dari saudara saudaranya muslim lannya...
------------------------------------
Bagi yang ingin ikut berpartisipasi dalam membantu kaum muslimin Rohingya di Aceh, silakan bisa mengirimkan bantuan ke:
Bank Syari'ah Mandiri cabang Cibubur
Nomor rekening: 756 1616 005
Atas nama: Yayasan Cahaya Sunnah
Kode Transfer: 451
Jazakumullahu khairan
FB Radio Rodja 756 AM
Info dari: Ust. Abu Sa'ad Muhammad Nur Huda, MA
---------------------------------------


Donasi Pendirian SD Tahfidzul Qur'an di Padang
Laporan Donasi:
18/5/2015 : Rp.0,-
17/5/2015 : Rp.0,-
16/5/2015 : Rp.300.000,- Hamba Alloh
15/5/2015 : Rp.2.000.000,- Hamba Alloh
15/5/2015 : Rp.150.000,- Hamba Alloh
15/5/2015 : Rp.30.000,- Hamba Alloh
15/5/2015 : Rp.1.000.000,- Hamba Alloh
15/5/2015 : Rp.50.000,- Hamba Alloh
14/5/2015 : Rp.0,-
13/5/2015 : Rp.0,-
12/5/2015 : Rp.1.500.000,- Hamba Alloh, Jakarta
11/5/2015 : Rp.100.000,- Hamba Alloh
10/5/2015 : Rp.0,-
9/5/2015 : Rp.1.000.000,- Hamba Alloh, Bogor
9/5/2015 : Rp.1.000.000,- Hamba Alloh, Padang
9/5/2015 : Rp.100.000,- Bpk. Fadyan, Solok
8/5/2015 : Rp.500.000,- Hamba Alloh
8/5/2015 : Rp.6.650.000,- Ibu. Eri, Jakarta
8/5/2015 : Rp.4.600.000,- Bpk. Chaidir Rahimahulloh, Bogor
7/5/2015 : Rp.0,-
6/5/2015 : Rp.300.000,- Hamba Alloh
6/5/2015 : Rp.200.000,- Hamba Alloh
5/5/2015 : Rp.0,-
4/5/2015 : Rp.100.000,- Hamba Alloh
3/5/2015 : Rp.0,-
2/5/2015 : Rp.0,-
1/5/2015 : Rp.0,-
Rekap Bulan April: Rp.13.937.800,-
Rekap Bulan Maret: Rp.22.860.000,-

Total: Rp.56.377.800,-

Kekurangan Biaya: 84.300.000 - 56.377.800 = Rp. 27.922.200,-
Donasi dapat disalurkan ke rekening yayasan berikut ini (YNQS: Yayasan Nurul Qur'an Sumbar):
Bank Syariah Mandiri(kode bank:451)= 7084570178, a/n YNQS
Konfirmasi donasi ke: 085364575752
0 komentar

Niat

Oleh
Ustadz Abu Isma’il Muslim Al-Atsari

Ada dua orang melakukan shalat, orang yang pertama meraih keridhaan Allah Azza wa Jalla sehingga dosa-dosanya gugur, sedangkan orang yang kedua mendapatkan kecelakaan dan kemurkaan Allah Azza wa Jalla karena nifak dan riyâ’nya.

Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan keutamaan shalat yang menggugurkan dosa-dosa karena dilakukan dengan ikhlas dan sempurna. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا مِنْ امْرِئٍ مُسْلِمٍ تَحْضُرُهُ صَلاَةٌ مَكْتُوبَةٌ فَيُحْسِنُ وُضُوءَهَا وَخُشُوعَهَا وَرُكُوعَهَا إِلاَّ كَانَتْ كَفَّارَةً لِمَا قَبْلَهَا مِنْ الذُّنُوبِ مَا لَمْ يُؤْتِ كَبِيرَةً وَذَلِكَ الدَّهْرَ كُلَّهُ

Tidak ada seorang muslim yang kedatangan (waktu) shalat wajib, lalu dia melakukan shalat wajib itu dengan menyempurnakan wudhu’nya, khusyu’nya dan ruku’nya, kecuali shalat itu merupakan penghapus dosa-dosa sebelumnya, selama dia tidak melakukan dosa besar. Dan itu untuk seluruh waktu. [HR. Muslim, no. 228]

Sebaliknya, beliau juga memperingatkan umat dari melakukan shalat karena riya’, karena hal ini akan menggugurkan amal, sebagaimana hadits berikut ini:

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ قَالَ خَرَجَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَنَحْنُ نَتَذَاكَرُ الْمَسِيحَ الدَّجَّالَ فَقَالَ أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِمَا هُوَ أَخْوَفُ عَلَيْكُمْ عِنْدِي مِنْ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ قَالَ قُلْنَا بَلَى فَقَالَ الشِّرْكُ الْخَفِيُّ أَنْ يَقُومَ الرَّجُلُ يُصَلِّي فَيُزَيِّنُ صَلاَتَهُ لِمَا يَرَى مِنْ نَظَرِ رَجُلٍ

Dari Abu Sa'îd, dia berkata: "Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi kami ketika kami sedang membicarakan Al-Masîhud Dajjâl. Kemudian beliau bersabda: "Maukah aku beritahukan kepada kamu sesuatu yang menurutku lebih aku takutkan terhadap kamu daripada terhadap Al-Masîhud Dajjâl?" Maka kami menjawab: "Ya, wahai Rasulullah". Maka beliau bersabda: "Syirik yang tersembunyi. Yaitu seseorang melakukan shalat, lalu dia membaguskan shalatnya karena dia melihat pandangan orang lain". [Hadits Hasan Riwayat Ibnu Mâjah, no; 4204]

Ini merupakan contoh nyata tentang pentingnya niat dan mengikhlaskan niat di dalam seluruh amalan. Oleh karena itu banyak sekali Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan hal ini di dalam hadits-hadits beliau. Antara lain, sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

Sesungguhnya semua amalan itu terjadi dengan niat, dan setiap orang mendapatkan apa yang dia niatkan. [HR. Bukhâri, no. 1; Muslim, no. 1907; dari Umar bin al-Khaththâb Radhiyallahu anhu]

Sesungguhnya suatu perbuatan akan diterima oleh Allah Azza wa Jalla jika memenuhi dua syarat, yaitu niat ikhlas dan mengikuti Sunnah. Oleh karena itu Allah Azza wa Jalla akan melihat hati manusia, apakah ia ikhlas; dan melihat amalnya, apakah sesuai dengan tuntunan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Beliau Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ

Sesungguhnya Allah tidak melihat bentuk kamu dan harta kamu, tetapi Dia melihat hati kamu dan amal kamu. [HR. Muslim, no. 2564]

Oleh karena itulah mengikhlaskan niat merupakan perintah Allah Azza wa Jalla kepada seluruh manusia, sebagaimana firman-Nya:

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

Padahal mereka tidak disuruh, kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan meunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus. [al-Bayyinah/98:5]

NIAT DALAM KEBAIKAN
Di antara rahmat dan anugerah Allah Azza wa Jalla adalah bahwa Dia menulis kebaikan hamba-Nya hanya karena keinginan untuk berbuat kebaikan, sedangkan keinginan berbuat keburukan belum ditulis. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan hal ini di dalam hadits sebagai berikut:

إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ الْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ ثُمَّ بَيَّنَ ذَلِكَ فَمَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً فَإِنْ هُوَ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ عِنْدَهُ عَشْرَ حَسَنَاتٍ إِلَى سَبْعِ مِائَةِ ضِعْفٍ إِلَى أَضْعَافٍ كَثِيرَةٍ وَمَنْ هَمَّ بِسَيِّئَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً فَإِنْ هُوَ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ سَيِّئَةً وَاحِدَةً

Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla menulis semua kebaikan dan keburukan. Barangsiapa berkeinginan berbuat kebaikan, lalu dia tidak melakukannya, Allah Azza wa Jalla menulis di sisi-Nya pahala satu kebaikan sempurna untuknya. Jika dia berkeinginan berbuat kebaikan, lalu dia melakukannya, Allah menulis pahala sepuluh kebaikan sampai 700 kali, sampai berkali lipat banyaknya. Barangsiapa berkeinginan berbuat keburukan, lalu dia tidak melakukannya, Allah Azza wa Jalla menulis di sisi-Nya pahala satu kebaikan sempurna untuknya. Jika dia berkeinginan berbuat keburukan, lalu dia melakukannya, Allah Azza wa Jalla menulis satu keburukan saja.[HR. Bukhâri, no. 6491; Muslim, no. 131]

NIAT DALAM KEBURUKAN
Keinginan yang melintas di dalam hati untuk berbuat keburukan belum ditulis dosa oleh Allah Azza wa Jalla . Namun, jika keinginan itu sudah menjadi tekad dan niat, apalagi sudah diusahakan, walaupun tidak terjadi, maka pelakunya sudah mendapatkan balasan karenanya. Dalam hal ini Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا الْتَقَى الْمُسْلِمَانِ بِسَيْفَيْهِمَا فَالْقَاتِلُ وَالْمَقْتُولُ فِي النَّارِ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَذَا الْقَاتِلُ فَمَا بَالُ الْمَقْتُولِ قَالَ إِنَّهُ كَانَ حَرِيصًا عَلَى قَتْلِ صَاحِبِهِ

Jika dua orang muslim bertemu dengan pedang masing-masing (berkelahi; berperang), maka pembunuh dan orang yang terbunuh di dalam neraka. Aku (Abu Bakrah) bertanya: ”Wahai Rasulullah, si pembunuh (kami memahami-pent), namun bagaimana dengan orang yang terbunuh. Beliau menjawab: “Sesungguhnya dia juga sangat ingin membunuh kawannya itu”. [HR. Bukhâri, no. 31, 7083; Muslim, no. 2888; dari Abu Bakrah]

Dalam hadits yang lain, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memperingatkan bahaya niat buruk di dalam hubungan antar hamba. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَيُّمَا رَجُلٍ يَدِينُ دَيْنًا وَهُوَ مُجْمِعٌ أَنْ لاَ يُوَفِّيَهُ إِيَّاهُ لَقِيَ اللَّهَ سَارِقًا

Siapa saja berhutang dengan niat tidak akan membayar hutang kepada pemiliknya, dia akan bertemu Allah sebagai pencuri. [HR. Ibnu Mâjah, no. 2410; Syaikh al-Albâni berkata: “Hasan Shahîh”]

PAHALA DAN SIKSA KARENA NIAT
Kedudukan niat yang sangat penting juga dapat dilihat dari akibat yang dihasilkannya. Yaitu bahwa sekedar niat, seseorang sudah mendapatkan pahala atau siksa. Hal ini diberitakan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam hadits berikut ini:

عَنْ أَبِي كَبْشَةَ الأَنَّمَارِيُّ أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: إِنَّمَا الدُّنْيَا ِلأَرْبَعَةِ نَفَرٍ: عَبْدٍ رَزَقَهُ اللَّهُ مَالاً وَعِلْمًا فَهُوَ يَتَّقِي فِيهِ رَبَّهُ وَيَصِلُ فِيهِ رَحِمَهُ وَيَعْلَمُ لِلَّهِ فِيهِ حَقًّا فَهَذَا بِأَفْضَلِ الْمَنَازِلِ وَعَبْدٍ رَزَقَهُ اللَّهُ عِلْمًا وَلَمْ يَرْزُقْهُ مَالاً فَهُوَ صَادِقُ النِّيَّةِ يَقُولُ لَوْ أَنَّ لِي مَالاً لَعَمِلْتُ بِعَمَلِ فُلاَنٍ فَهُوَ بِنِيَّتِهِ فَأَجْرُهُمَا سَوَاءٌ وَعَبْدٍ رَزَقَهُ اللَّهُ مَالاً وَلَمْ يَرْزُقْهُ عِلْمًا فَهُوَ يَخْبِطُ فِي مَالِهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ لاَ يَتَّقِي فِيهِ رَبَّهُ وَلاَ يَصِلُ فِيهِ رَحِمَهُ وَلاَ يَعْلَمُ لِلَّهِ فِيهِ حَقًّا فَهَذَا بِأَخْبَثِ الْمَنَازِلِ وَعَبْدٍ لَمْ يَرْزُقْهُ اللَّهُ مَالاً وَلاَ عِلْمًا فَهُوَ يَقُولُ لَوْ أَنَّ لِي مَالاً لَعَمِلْتُ فِيهِ بِعَمَلِ فُلاَنٍ فَهُوَ بِنِيَّتِهِ فَوِزْرُهُمَا سَوَاءٌ

Dari Abu Kabsyah al-Anmâri Radhiyallahu anhu, bahwa dia mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya dunia itu untuk 4 orang: Hamba yang Allah Azza wa Jalla berikan rizqi kepadanya berupa harta (dari jalan yang halal) dan ilmu (agama Islam), kemudian dia bertaqwa kepada Rabbnya pada rizqi itu (harta dan ilmu), dia berbuat baik kepada kerabatnya dengan rizqinya, dan dia mengetahui hak bagi Allah Azza wa Jalla padanya. Maka hamba ini berada pada kedudukan yang paling utama (di sisi Allah Azza wa Jalla ). Hamba yang Allah Azza wa Jalla berikan rizqi kepadanya berupa ilmu, namun Dia tidak memberikan rizqi berupa harta, dia memiliki niat yang baik. Dia mengatakan: “Seandainya aku memiliki harta aku akan berbuat seperti perbuatan si fulân (orang pertama yang melakukan kebaikan itu)”. Maka dia (dibalas) dengan niatnya (yang baik), pahala keduanya (orang pertama dan kedua) sama. Hamba yang Allah Azza wa Jalla berikan rizqi kepadanya berupa harta, namun Dia tidak memberikan rizqi kepadanya berupa ilmu, kemudian dia berbuat sembarangan dengan hartanya dengan tanpa ilmu. Dia tidak bertaqwa kepada Rabbnya padanya, dia tidak berbuat baik kepada kerabatnya dengan hartanya, dan dia tidak mengetahui hak bagi Allah Azza wa Jalla padanya. Maka hamba ini berada pada kedudukan yang paling buruk (di sisi Allah Azza wa Jalla ). Hamba yang Allah Azza wa Jalla tidak memberikan rizqi kepadanya berupa harta dan ilmu, kemudian dia mengatakan: “Seandainya aku memiliki harta aku akan berbuat seperti perbuatan si fulân (dengan orang ketiga yang melakukan keburukan itu)”. Maka dia (dibalas) dengan niatnya, dosa keduanya sama.[1]

Syaikh Salim al-Hilâli hafizhahullâh berkata menjelaskan di antara fiqih dari hadits ini: “Seseorang itu akan diberi pahala atau dihukum karena keinginan yang tetap/kuat (di dalam hatinya-pen) walaupun dia tidak mampu melaksanakannya. Karena walaupun dia tidak mampu melakukannya, namun dia mampu mengharapkan dan menginginkan”.[2]

NIAT BAIK TIDAK MERUBAH KEMAKSIATAN MENJADI KETAATAN
Semua keterangan ini menunjukkan pentingnya kedudukan niat. Oleh karena itu seorang Muslim yang baik selalu membangun seluruh amalannya di atas niat yang baik, yaitu ikhlas karena Allah Azza wa Jalla . Demikian juga seorang muslim akan selalu berusaha beramal berdasarkan Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , karena hal ini sebagai kelengkapan niat yang baik.

Karena semata-mata niat yang baik tidak bisa merubah kemaksiatan menjadi ketaatan. Seperti seseorang bershadaqah dengan uang curian atau korupsi. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ تُقْبَلُ صَلاَةٌ بِغَيْرِ طُهُورٍ وَلاَ صَدَقَةٌ مِنْ غُلُوْلٍ

Tidak akan diterima shalat dengan tanpa bersuci dan tidak akan diterima shadaqah dari (hasil) ghulul (khianat). [HR. Muslim, no. 224]

Jadi, walaupun suatu amalan itu merupakan kebaikan secara lahiriyah, dan dilakukan dengan niat yang baik, seperti shalat atau shadaqah, namun jika tidak memenuhi syarat-syarat di dalam agama, maka niat yang baik itu tidak dapat merubahnya sebagai amalan ketaatan.

Oleh karena itu seorang Sahabat yang mulia, `Abdullah bin Mas’ûd Radhiyallahu anhu pernah mendatangi jama’ah dzikir yang berkelompok-kelompok memegang kerikil. Setiap kelompok dipimpin satu orang. Pemimpin itu memerintahkan: “Bertakbir 100 kali”, mereka pun melakukannya. Dia juga memerintahkan agar jama’ah bertahlil 100 kali dan bertasbih 100 kali, mereka juga melakukannya. Maka `Abdullah bin Mas’ûd Radhiyallahu anhu berkata kepada mereka: “Apakah ini -yang aku lihat kamu lakukan-?” Mereka menjawab: “Wahai Abu Abdurrahmân, ini kerikil. Kami menghitung takbîr, tahlîl, dan tasbîh dengannya. Beliau berkata: “Hitung saja keburukan-keburukan kamu! aku menjamin kebaikan-kebaikan kamu tidak akan disia-siakan sedikit pun (sehingga perlu dihitung). Kasihan kamu, wahai umat Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam , alangkah cepatnya kebinasaan kamu! Ini lah para sahabat Nabi kamu masih banyak. Ini lah pakaian beliau belum usang, dan bejana-bejana beliau belum pecah. Demi Allah Azza wa Jalla yang jiwaku di tangan-Nya, sesungguhnya kamu berada di atas agama yang lebih baik dari agama Muhammad, atau kamu adalah orang-orang yang membuka pintu kesesatan”. Mereka berkata: “Demi Allah Azza wa Jalla , wahai Abu Abdurrahmân, kami tidak menghendaki kecuali kebaikan”. Beliau menjawab: “Alangkah banyak orang yang menghendaki kebaikan tidak mendapatkannya”. Sesungguhnya Rasululluh Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberitakan kepada kami:

أَنَّ قَوْمًا يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لاَ يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ

“Bahwa ada sekelompok orang, mereka membaca al-Qur’ân, namun al-Qur’ân itu tidak melewati tenggorokan mereka”.

Demi Allah Azza wa Jalla , aku tidak tahu, kemungkinan kebanyakan mereka itu adalah dari kamu”. Kemudian beliau meninggalkan mereka.[3]

Marilah kita perhatikan jawaban beliau di atas: “Alangkah banyak orang yang menghendaki kebaikan tidak mendapatkannya”. Yaitu banyak orang menghendaki kebaikan, memiliki niat yang baik, namun karena tidak melewati jalan yang harus dilalui, maka dia tidak mendapatkan apa yang dia niatkan.

Dan perlu diketahui, bahwa niat bukanlah kalimat yang diucapkan, namun tekad di dalam hati yang membangkitkan amalan.

Kesimpulannya, hendaklah kita selalu memiliki niat yang baik, ikhlas di dalam seluruh amalan, lahir dan batin. Demikian juga amalan itu harus berdasarkan tuntunan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Semoga Allah Azza wa Jalla selalu memberikan pertolongan kepada kita untuk meraih keridhaan-Nya. Alhamdulillâhi rabbil ‘âlamîn.

RUJUKAN:
1. Shahîh Bukhâri
2. Shahîh Muslim
3. Kitab-kitab Sunan
4. Minhâjul Muslim, karya Syaikh Abu Bakar Jâbir al-Jazâiri
5. Bahjatun Nâzhirîn Syarah Riyâdhus Shâlihîn, karya Syaikh Sâlim al-Hilâli
6. Ilmu Ushûl Bida’, karya Syaikh ‘Ali al-Halâbi
7. Dan lain-lain

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 04/Tahun XIII/1430H/2009M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]
_______
Footnote
[1]. Hadits Shahîh Riwayat Tirmidzi, no: 2325; Ahmad 4/230-231, no: 17570; Ibnu Mâjah, no: 4228; dan lainnya. Dishahîhkan Syaikh al-Albâni di dalam Shahîh Sunan Ibni Mâjah, no: 3406. Lihat juga: Al-Ilmu Fadhluhu Wa Syarafuhu, hal: 252-253
[2]. Bahjatun Nâzhirin Syarah Riyadhus Shâlihin 1/608, syarah hadits no: 557
[3]. Hadits Shahîh Riwayat Dârimi di dalam Sunan, juz 1, hlm. 68-69, no. 206; dan Bahsyal di dalam Târîkh Wasîth, hlm. 198-199. Lihat: Al-Bid’ah, hlm. 43-44; Ilmu Ushul Bida’, hlm. 92

Sumber: almanhaj.or.id
0 komentar

Bencana Lisan

Oleh
Ustadz Abu Isma'il Muslim Al-Atsari


Waktu (baca : usia) adalah modal untuk melakukan amal shalih. Orang yang mengerti hakikat ini, maka dia tidak akan menggunakannya kecuali untuk perkara yang bermanfaat. Dia akan berusaha memanfaatkan segala potensi diri untuk mendapatkan pahala sebanyak mungkin. Diantara yang bisa mudah dimanfaatkan untuk menabung bekal disisi Allah Azza wa Jalla adalah lidah. Dengan lidah, seseorang bisa berdzikir dan saling nasehat menasehati sehingga meraih banyak pahala. Namun sebaliknya, lidah juga bisa mengakibatkan dosa dan menyeret seseorang ke neraka, jika tidak dimanfaatkan untuk kebaikan. Kesadaran seseorang terhadap fungsi dan bahaya lisan ini akan mendorong dirinya untuk menjaga lidah, tidak berbicara kecuali yang bermanfaat.

Berikut kami nukilkan beberapa bencana yang dapat ditimbulkan oleh lidah. Dengan harapan agar kita menjauhinya setelah kita faham. Karena kita tidak akan bisa menghindarinya kalau kita belum mengetahui berbagai bencana ini. Diantara bencana-bencana itu adalah :

1. Membicarakan Sesuatu Yang Tidak Bermanfaat.
Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِنَّ مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكَهُ مَا لَا يَعْنِيهِ

Sesungguhnya di antara kebaikan Islam seseorang adalah dia meninggalkan perkara yang tidak bermanfaat [HR. Tirmidzi, no. 2317; Ibnu Mâjah, no. 3976; Mâlik, 2/470; al-Baghawi, no. 4132. Dishahihkan oleh al-Albâni]

Sesuatu yang tidak bermanfaat itu, bisa berupa perkataan atau perbuatan; perkara yang haram, atau makruh, atau perkara mubah yang tidak bermanfaat. Oleh karena itu, supaya terhindar dari bahaya lisan yang pertama ini, hendaklah seseorang selalu sesuatu yang mengandung kebaikan. Jika tidak bisa, hendaknya diam. Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia mengucapkan sesuatu yang baik atau diam. [HR. Bukhâri, no. 6475; Muslim, no. 47; dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu]

Walaupun ini berat, namun seyogyanya seorang hamba yang ingin selamat di akhirat agar selalu berusaha untuk melakukannya. Diriwayatkan bahwa Muwarriq al-‘Ijli rahimahullah berkata : “Ada satu perkara yang aku sudah mencarinya semenjak duapuluh tahun lalu. Aku belum berhasil meraihnya. Namun aku tidak akan berhenti mencarinya”. Orang-orang bertanya: “Apa itu wahai Abu Mu’tamir?” Dia menjawab : “Diam (tidak membicarakan-red) dari sesuatu yang tidak bermanfaat bagiku”

2. Berdebat Dengan Cara Batil Atau Tanpa Ilmu.
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

إِنَّ أَبْغَضَ الرِّجَالِ إِلَى اللَّهِ الْأَلَدُّ الْخَصِمُ

Sesungguhnya orang yang paling dimurkai oleh Allah adalah orang yang selalu mendebat. [HR. Bukhâri, no. 2457; Muslim, no. 2668; dll]

Mendebat dalam hadits diatas maksudnya adalah mendebat dengan cara batil atau tanpa ilmu. Sedangkan orang yang berada di pihak yang benar, sebaiknya dia juga menghindari perdebatan. Karena debat itu akan membangkitkan emosi, mengobarkan kemurkaan, menyebabkan dendam, dan mencela orang lain. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda:

أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا وَبِبَيْتٍ فِي وَسَطِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْكَذِبَ وَإِنْ كَانَ مَازِحًا وَبِبَيْتٍ فِي أَعْلَى الْجَنَّةِ لِمَنْ حَسَّنَ خُلُقَهُ

Saya memberikan jaminan rumah di pinggiran surga bagi orang yang meningalkan perdebatan walaupun dia orang yang benar. Saya memberikan jaminan rumah di tengah surga bagi orang yang meningalkan kedustaan walaupun dia bercanda. Saya memberikan jaminan rumah di surga yang tinggi bagi orang yang membaguskan akhlaqnya. [HR. Abu Dawud, no. 4800; dishahîhkan an-Nawawi dalam Riyâdhus Shâlihîn, no. 630 dan dihasankan oleh Syaikh al-Albâni di dalam ash-Shahîhah, no. 273]

Mengingkari kemungkaran dan menjelaskan kebenaran merupakan kewajiban seorang Muslim. Jika penjelasan itu diterima, itulah yang dikehendaki. Namun jika ditolak, maka hendaklah dia meninggalkan perdebatan. Ini dalam masalah agama, apalagi dalam urusan dunia, maka tidak ada alasan untuk berdebat.

3. Banyak Berbicara, Suka Mengganggu Dan Sombong
Masalah-masalah ini dijelaskan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallamdengan sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

إِنَّ مِنْ أَحَبِّكُمْ إِلَيَّ وَأَقْرَبِكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَحَاسِنَكُمْ أَخْلَاقًا وَإِنَّ أَبْغَضَكُمْ إِلَيَّ وَأَبْعَدَكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ الثَّرْثَارُونَ وَالْمُتَشَدِّقُونَ وَالْمُتَفَيْهِقُونَ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ قَدْ عَلِمْنَا الثَّرْثَارُونَ وَالْمُتَشَدِّقُونَ فَمَا الْمُتَفَيْهِقُونَ قَالَ الْمُتَكَبِّرُونَ

Sesungguhnya termasuk orang yang paling kucintai di antara kamu dan paling dekat tempat duduknya denganku pada hari kiamat adalah orang-orang yang paling baik akhlaqnya di antara kamu. Dan sesungguhnya orang yang paling kubenci di antara kamu dan paling jauh tempat duduknya denganku pada hari kiamat adalah ats-tsartsârûn, al-mutasyaddiqûn, dan al-mutafaihiqûn. Para sahabat berkata: “Wahai Rsulullah, kami telah mengetahui al-tsartsârûn dan al-mutasyaddiqûn, tetapi apakah al-mutafaihiqûn? Beliau menjawab: “Orang-orang yang sombong”. [Hadits Shahih dengan penguat-penguatnya. HR Tirmidzi, no. 2018 dari Jâbir Radhiyallahu anhu ; dan Ahmad 2/369 dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu]

Setelah meriwayatkan hadits ini, imam Tirmidzi rahimahullah mengatakan, ”ats-Tsartsâr adalah orang yang banyak bicara, sedangkan al-mutasyaddiq adalah orang yang biasa mengganggu orang lain dengan perkataan dan berbicara jorok kepada mereka”.

Imam Ibnul Atsîr rahimahullah menjelaskan dalam kitab an-Nihâyah : “ats-Tsartsârûn adalah orang-orang yang banyak bicara dengan memaksakan diri dan keluar dari kebenaran. al-Mutasyaddiqûn adalah orang-orang yang berbicara panjang lebar tanpa hati-hati.. Ada juga yang mengatakan, al-mutasyaddiq adalah orang yang mengolok-olok orang lain dengan mencibirkan bibir kearah mereka”.

Imam al-Mundziri rahimahullah mengatakan dalam at-Targhîb : “ats-Tsartsâr adalah orang yang banyak bicara dengan memaksakan diri. al-Mutasyaddiq adalah orang yang berbicara dengan seluruh bibirnya untuk menunjukkan kefasihan dan keagungan perkataannya. al-Mutafaihiq hampir semakna dengan al-mutasyaddiq. karena maknanya adalah orang yang memenuhi mulutnya dengan perkataan dan berbicara panjang lebar untuk menunjukkan kefasihannya, keutamaannya, dan merasa lebih tinggi dari orang lain. Oleh karena inilah, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallammenafsirkan al-mutafaihiq dengan orang yang sombong. [Dinukil dengan ringkas dari Tuhfatul Ahwâdzi, Syarh Tirmidzi]

Tetapi tidak termasuk sajak yang dibenci, lafazh-lafazh yang disampaikan khatib, kalimat indah untuk memberi peringatan, asal tidak berlebihan dan aneh. Karena tujuannya adalah untuk membangkitkan hati dan menggerakkannya menuju kebaikan, kalimat yang indah, dan semacamnya.

4. Mengucapkan Perkataan Keji, Jorok, Celaan, Dan Semacamnya.
Semua hal ini tercela dan terlarang. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda:

لَيْسَ الْمُؤْمِنُ بِالطَّعَّانِ وَلَا اللَّعَّانِ وَلَا الْفَاحِشِ وَلَا الْبَذِيءِ

Seorang mukmin bukanlah orang yang banyak mencela, bukan orang yang banyak melaknat, bukan orang yang keji (buruk akhlaqnya), dan bukan orang yang jorok omongannya. [HSR. Tirmidzi, no. 1977; Ahmad, no. 3839 dan lain-lain]

Fuhsy (keji) dan badza’ (jorok) adalah mengungkapkan perkara-perkara yang dianggap keji (tabu) dengan kata-kata gamblang. Biasanya tentang lafazh-lafazh jima’ dan yang berkaitan dengannya. Orang-orang yang sopan akan menjauhi ungkapan-ungkapan itu dan mengunakan kata-kata sindiran, sebagaimana dicontohkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Betapa banyak perkataan keji dan jorok tersebar di zaman ini, di koran-koran, majalah-majalah, buku-buku, novel-novel, radio, HP, atau lainnya. Bahkan ada perkara yang lebih buruk dan lebih keji dari sekedar ucapan !! Namun yang bisa merasakan keburukannya adalah orang-orang yang hatinya masih hidup. Sedangkan orang yang hatinya sakit atau mati, maka dia tidak akan merasakan keburukannya, bahkan mungkin sebaliknya, dia akan merasa nikmat. Sebagaimana luka yang hanya dirasakan oleh orang yang masih hidup, sedangkan orang yang mati, dia tidak akan merasakan sakit akibat luka. Wallahul Musta’an.

5. Keterlaluan Dalam Bercanda.
Yaitu semua waktunya digunakan untuk bercanda dan membuat orang tertawa. Sesungguhnya banyak canda akan menjatuhkan wibawa, menyebabkan dendam dan permusuhan, serta mematikan hati. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda :

لَا تُكْثِرُوا الضَّحِكَ فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحِكِ تُمِيتُ الْقَلْبَ

Janganlah kamu memperbanyak tawa, karena sesungguhnya banyak tertawa itu akan mematikan hati. [HSR. Ibnu Mâjah, no. 4193; dishahîhkan oleh al-Albâni dalam Silsilah ash-Shahîhah, no. 506]

Apalagi jika banyak bercanda ini ditambahi dusta, maka jelas akan lebih berbahaya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallammemperingatkan dengan sabda beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam:

وَيْلٌ لِلَّذِي يُحَدِّثُ بِالْحَدِيثِ لِيُضْحِكَ بِهِ الْقَوْمَ فَيَكْذِبُ وَيْلٌ لَهُ وَيْلٌ لَهُ

Kecelakaan bagi orang yang menceritakan suatu, lalu dia berdusta untuk membuat orang-orang tertawa. Kecelakaan baginya ! Kecelakaan baginya !. [HSR. Tirmidzi, no. 2315; Abu Dâwud, no. 4990; dishahîhkan oleh al-Albâni]

Di zaman dahulu, bercanda dan membuat tertawa itu hanyalah dilakukan oleh pribadi-pribadi tertentu. Namun sekarang, grup lawak bermunculan seperti jamur di musim hujan, diperlombakan, dan dipertontonkan serta dibayar dengan honor tinggi. Setan telah menjerat banyak orang dalam kesesatan dan memanfaatkan mereka sebagai perangkap. Semoga Allah Azza wa Jalla menjaga kita dari segala jebakan setan.

Namun jika canda itu dilakukan kadang-kadang dan dengan perkataan yang benar serta dilakukan kepada orang-orang yang membutuhkannya, seperti anak-anak, wanita, sebagian orang laki-laki, sebagaimana canda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka hal itu tidak mengapa. Karena canda akan menyenangkan hati dan menyegarkan suasana. Sebagian ulama menyatakan bahwa canda dalam perkataan itu seperti garam dalam makanan.

6. Membicarakan Suatu Yang Bathil.
Maksudnya adalah menceritakan perbuatan-perbuatan maksiatnya, seperti berbangga dengan perbuatan bermabuk-mabukan atau kemungkaran yang lain. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda:

كُلُّ أُمَّتِي مُعَافًى إِلَّا الْمُجَاهِرِينَ وَإِنَّ مِنْ الْمُجَاهَرَةِ أَنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ بِاللَّيْلِ عَمَلًا ثُمَّ يُصْبِحَ وَقَدْ سَتَرَهُ اللَّهُ عَلَيْهِ فَيَقُولَ يَا فُلَانُ عَمِلْتُ الْبَارِحَةَ كَذَا وَكَذَا وَقَدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ وَيُصْبِحُ يَكْشِفُ سِتْرَ اللَّهِ عَنْهُ

Semua umatku mu’âfan (akan diampuni dosanya; atau tidak boleh dighibah) kecuali orang-orang yang melakukan dosa dengan terang-terangan. Dan termasuk melakukan dosa dengan terang-terangan adalah seseorang melakukan suatu perbuatan buruk pada malam hari, kemudian di waktu pagi dia mengatakan, ”Hai Fulan, tadi malam aku melakukan ini dan ini”. Padahal di waktu malam Allah Azza wa Jalla telah menutupi perbuatan buruknya, namun di waktu pagi dia membongkar tutupan Allah. [HR. Bukhâri, no. 6069; Muslim, no. 2990]

Oleh karena itulah, barangsiapa yang telah bertaubat dari perbuatan dosa, hendaklah dia menutupi aib dirinya, tidak perlu bercerita kepada orang lain.

7. Perkataan Yang Salah Berkaitan Dengan Masalah Agama, Apalagi Jika Berkaitan Dengan Sifat-Sifat Allah Azza wa Jalla .
Kesalahan lisan yang satu ini, tentu susah diatasi kecuali oleh para ahli ilmu dan ahli bahasa. Orang yang malas atau tidak bersungguh-sungguh menuntut ilmu dan bahasa, maka perkataannya tidak lepas dari ketergelinciran. Semoga Allah Azza wa Jalla mema’afkan kesalahan akibat ketidaktahuan. Diantara contoh perkataan yang salah berkaitan dengan masalah agama yaitu perkataan ‘Apa yang Allah dan engkau kehendaki’. Dalam hadits dijelaskan :

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ سَمِعَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلًا يَقُولُ مَا شَاءَ اللَّهُ وَشِئْتَ فَقَالَ بَلْ مَا شَاءَ اللَّهُ وَحْدَهُ

Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu anhu, dia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengar seorang laki-laki berkata: "Mâ syâ’allah wa syi'ta" (apa yang Allah dan engkau kehendaki), maka beliau bersabda : "Bukan begitu, tetapi (katakanlah) : "Mâ syâ’allah wahdah" (apa yang dikehendaki oleh Allah semata). [HR. Ahmad, no: 1965]

Hikmah larangan ucapan "Mâ syâ’allah wa syi'ta" (apa yang Allah dan engkau kehendaki), dan semacamnya adalah karena ucapan itu merupakan bentuk menyekutukan kehendak Allah. Karena kata sambung "dan" bermakna mengumpulkan, menyamakan dan menyekutukan. Yang benar, dalam menggabungkan kehendak hamba dengan kehendak Allah ialah dengan menggunakan kata "kemudian". Karena kata “kemudian” mengandung makna urutan (berikutnya) dan ada selang waktu. Hal ini karena kehendak Allah Azza wa Jalla mendahului kehendak hamba. Maka tidak ada satu pun peristiwa yang terjadi kecuali yang dikehendaki oleh Allah Azza wa Jalla . Semua yang Allah Azza wa Jalla kehendaki maka pasti terjadi, dan yang tidak Dia kehendaki tidak akan pernah terjadi.

Syaikh Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallamâshiruddîn al-Albâni berkata dalam kitab Silsilah al-Ahâdîst ash-Shahîhah, 1/266-267 : "Dalam hadits-hadits ini terdapat dalil bahwa ucapan seseorang kepada yang lain "mâ syâ’allah wa syi'ta" (apa yang Allah dan engkau kehendaki) dinilai syirik dalam syari'at. Dan ini termasuk syirik dalam kata-kata. Karena memberikan kesan bahwa kehendak hamba sederajat dengan kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala . Sebabnya adalah karena menggabungkan dua kehendak tersebut. Contoh yang lain adalah perkataan sebagian orang-orang awam dan orang-orang seperti mereka yang mengaku berilmu : "Tidak ada bagiku selain Allah dan anda", "Kami bertawakkal kepada Allah dan kepada anda". Dan seperti perkataan sebagian para penceramah: "Dengan nama Allah dan dengan nama tanah air", atau "Dengan nama Allah dan dengan nama bangsa", dan kata-kata syirik yang sejenisnya wajib ditinggalkan dan bertaubat, dalam rangka beradab kepada Allah Tabâraka wa Ta'âla".

Selain yang telah disebutkan diatas, sesungguhnya bencana-bencana lidah masih banyak, seperti ghibah, namimah, dusta, dan lain sebagainya. Namun sedikit yang kami sampaikan ini mudah-mudahan sebagai pemacu bagi kita semua untuk selalu menjaga lidah kita dari keburukan dan selalu menghiasinya dengan kebaikan. Al-hamdulillahi Rabbil 'Alamiin.

Maraji :
1. Mukhtashar Minhâjul Qâshidîn, Imam Ibnu Qudamah, tahqîq Syaikh Ali al-Halabi.
2. Aafâtul Lisân fî Dhauil Kitâb was Sunnah, Dr. Sa'id bin 'Ali bin Wahf Al-Qahthâni
3. Jâmi’ul ‘Ulûm wal Hikam, Imam Ibnu Rajab, tahqîq Syu’aib al-Arnauth dan Ibrâhim Bajis; penerbit ar-Risâlah; cet: 5; th: 1414 H/ 1994 M)
4. Hashâ-idul Alsun, karya Syaikh Husain al-'Awaisyah, penerbit. Dârul Hijrah. Dan lain-lain.

Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 11/Tahun XII/Shafar 1430/2009M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]
0 komentar

Bercanda Dalam Timbangan Islam


Oleh
Ustadz Abu Ihsan al-Atsari


لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat, dan dia banyak menyebut Allah. [al-Ahzâb/33:21].

RASULULLAH SHALLALLAHU ALAIHI WA SALLAM JUGA BERCANDA
Sebagai manusia biasa, kadang kala beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bercanda. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam sering mengajak istri, dan para sahabatnya bercanda dan bersenda gurau, untuk mengambil hati, dan membuat mereka gembira. Namun canda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak berlebih-lebihan, tetap ada batasannya. Bila tertawa, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak melampaui batas tetapi hanya tersenyum. Begitu pula, meski dalam keadaan bercanda, beliau tidak berkata kecuali yang benar.

Dituturkan ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha:

مَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّه صلىاللّه عليه وسلم مُستَجْمِعًا قَطُّ ضَا حِكًا حَتَّى تُرَى مِنْهُ لَهَوَاتُهُ إِنَمَا كَانَ يَتَبَسَّمُ

Aku belum pernah melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tertawa terbahak-bahak hingga kelihatan lidahnya, namun beliau hanya tersenyum.[1]

Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu menceritakan, para sahabat bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Wahai, Rasulullah! Apakah engkau juga bersenda gurau bersama kami?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: Betul, hanya saja aku selalu berkata benar. [2]

BEBERAPA CONTOH CANDA NABI SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM
1. Anas Radhiyallahu ‘anhu menceritakan salah satu bentuk canda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memanggilnya dengan sebutan:

يَا ذَا الاُّ ذُ نَيْنِ

Wahai, pemilik dua telinga! [3]

2. Anas Radhiyallahu ‘anhu mengisahkan, Ummu Sulaim Radhiyallahu ‘anha memiliki seorang putera yang bernama Abu ‘Umair. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sering bercanda dengannya setiap kali beliau datang. Pada suatu hari beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam datang mengunjunginya untuk bercanda, namun tampaknya anak itu sedang sedih. Mereka berkata: “Wahai, Rasulullah! Burung yang biasa diajaknya bermain sudah mati,” lantas Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bercanda dengannya, beliau berkata:

يَا اَبَا عُميرٍ مَا فَعَلَ النُغَيْرُ

“Wahai Abu ‘Umair, apakah gerangan yang sedang dikerjakan oleh burung kecil itu?” [4]

3. Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu bercerita, ada seorang pria dusun bernama Zahir bin Haram. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat menyukainya. Hanya saja tampang pria ini jelek.

Pada suatu hari, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menemuinya ketika ia sedang menjual barang dagangan. Tiba-tiba Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memeluknya dari belakang, sehingga ia tidak dapat melihat beliau. Zahir bin Haram pun berseru: “Lepaskan aku! Siapakah ini?”

Setelah menoleh iapun mengetahui, ternyata yang memeluknya ialah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka iapun tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk merapatkan punggungnya ke dada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas berkata: “Siapakah yang sudi membeli hamba sahaya ini?”

Dia menyahut,”Demi Allah, wahai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jika demikian aku tidak akan laku dijual!”

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membalas: “Justru di sisi Allah l engkau sangat mahal harganya!” [5]

4. Diriwayatkan dari Anas Radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya seorang laki-laki datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata: “Wahai Rasulullah, bawalah aku?” Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Kami akan membawamu di atas anak onta.” Laki-laki itu berkata: “Apa yang bisa aku lakukan dengan anak onta?” Maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Bukankah onta yang melahirkan anak onta?” [6]

5. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga sering kali bercanda dan menggoda Aisyah Radhiyallahu ‘anha.

Suatu kali beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya: “Aku tahu kapan engkau suka kepadaku dan kapan engkau marah kepadaku,” Aku
(‘Aisyah) menyahut: “Darimana engkau tahu?” Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam berkata: “Kalau engkau suka kepadaku engkau akan mengatakan, ‘Tidak, demi Rabb Muhammad,’ dan kalau engkau marah kepadaku engkau akan mengatakan, “Tidak, demi Rabb Ibrahim”. Aku (‘Aisyah) menjawab: “Benar, demi Allah! Tidaklah aku menghindari melainkan namamu saja.”[7]

6. Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu menceritakan: “Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah menjulurkan lidahnya bercanda dengan al-Hasan bin Ali Radhiyallahu 'anhu. Ia pun melihat merah lidah beliau, lalu ia segera menghambur menuju beliau dengan riang gembira.” [8]

CANDA YANG DIBOLEHKAN
Ada kalanya kita mengalami kelesuan dan ketegangan setelah menjalani kesibukan. Atau muncul rasa jenuh dengan berbagai rutinitas dan kesibukan sehari-hari. Dalam kondisi seperti ini, kita membutuhkan penyegaran dan bercanda. Kadang kala kita bercanda dengan keluarga atau dengan sahabat. Hal ini merupakan sesuatu yang sangat manusiawi dan dibolehkan. Begitu pula Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam juga melakukannya. Jika kita ingin melakukannya, maka harus memperhatikan beberapa hal yang penting dalam bercanda.

1. Meluruskan Tujuan.
Yaitu bercanda untuk menghilangkan kepenatan, rasa bosan dan lesu, serta menyegarkan suasana dengan canda yang dibolehkan. Sehingga kita bisa memperoleh gairah baru dalam melakukan hal-hal yang bermanfaat.

2. Jangan Melewati Batas.
Sebagian orang sering kebablasan dalam bercanda hingga melanggar norma-norma. Dia mempunyai maksud buruk dalam bercanda, sehingga bisa menjatuhkan wibawa dan martabatnya di hadapan manusia. Orang-orang akan memandangnya rendah, karena ia telah menjatuhkan martabatnya sendiri dan tidak menjaga wibawanya. Terlalu banyak bercanda akan menjatuhkan wibawa seseorang.

3. Jangan Bercanda Dengan Orang Yang Tidak Suka Bercanda.
Terkadang ada orang yang bercanda dengan seseorang yang tidak suka bercanda, atau tidak suka dengan canda orang tersebut. Hal itu akan menimbulkan akibat buruk. Oleh karena itu, lihatlah dengan siapa kita hendak bercanda.

4. Jangan Bercanda Dalam Perkara-Perkara Yang Serius.
Ada beberapa kondisi yang tidak sepatutnya bagi kita untuk bercanda. Misalnya dalam majelis penguasa, majelis ilmu, majelis hakim, ketika memberikan persaksian, dan lain sebagainya.

5. Hindari Perkara-Perkara Yang Dilarang Allah Subhanahu Wa Ta'ala Saat Bercanda.
Tidak boleh bercanda atau bersenda gurau dalam perkara yang dilarang oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala, di antaranya sebagai berikut.

- Menakut-nakuti seorang muslim dalam bercanda. Ada orang yang bercanda dengan memakai sesuatu untuk menakut-nakuti temannya. Misalnya, seperti memakai topeng yang menakutkan pada wajahnya, berteriak dalam kegelapan, atau menyembunyikan barang milik temannya, atau yang sejenisnya. Perbuatan seperti ini tidak dibolehkan. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

لاَ يَأْ خُذَنَّ أحَدُكُمْ مَتَا عَ أَخِيهِ لاَ عِبًا وَلاَ جَادًّا

Janganlah salah seorang dari kalian mengambil barang milik saudaranya, baik bercanda maupun bersungguh-sungguh.[9]

Pernah terjadi, ketika salah seorang sahabat Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam sedang tidur, datanglah seseorang lalu mengambil cambuknya, dan menyembunyikannya. Pemilik cambuk itupun merasa takut. Sehingga Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

لاَيَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يُرَوِّعَ مُسلِمًا

Tidak halal bagi seorang muslim membuat takut muslim yang lain.[10]

Intinya, tidak boleh menakuti-nakuti seorang muslim meskipun hanya untuk bercanda, terlebih lagi jika dengan sungguh-sungguh.

- Berdusta saat bercanda.
Banyak orang yang dengan sesuka hatinya bercanda, tak segan berdusta dengan alasan bercanda. Padahal berdusta dalam bercanda ini tidak dibolehkan. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْت فِي رَبَضِ الْجَنّّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كََانَ مُحقًّا وَبِبَيْتٍ فِي وَسَط الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْكَذِ بَ وَإِنْ كَانَ مَازِ حًا وَبِبَيتِ فِي أَغلَى الْجَنَّةِ لِمَنْ حَسَّنَ خُلُقَهُ

Aku menjamin dengan sebuah istana di bagian tepi surga bagi orang yang meninggalkan debat meskipun ia berada di pihak yang benar, sebuah istana di bagian tengah surga bagi orang yang meninggalkan dusta meski ia sedang bercanda, dan istana di bagian atas surga bagi seorang yang memperbaiki akhlaknya.

Demikianlah yang dilakukan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau tetap berkata jujur meskipun sedang bercanda. Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

إِنِّي لأَمْزَحُ وَلاَ أَقُوْلُ إِلاَّ حَقًا

Sesungguhnya aku juga bercanda, namun aku tidak mengatakan kecuali yang benar. [11]

Oleh karena itu, tidak boleh berdusta ketika bercanda. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah memberikan ancaman terhadap orang yang berdusta untuk membuat orang lain tertawa dengan sabda beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam :

وَيْلٌ للَّذِي يُحَدِّ ثُ فَيَكْذِبُ لِيُضْخِكَ بِهِ الْقَوْمَ ويْلٌ لَهُ وَيْلٌ لَهُ

Celakalah seseorang yang berbicara dusta untuk membuat orang tertawa, celakalah ia, celakalah ia. [12]

Apalagi bila dalam candanya itu ia menyebut aib dan rahasia orang lain, atau mencela dan mengejek orang lain.

- Melecehkan sekelompok orang tertentu.
Misalnya bercanda dengan melecehkan orang-orang tertentu, penduduk daerah tertentu, atau profesi tertentu, atau bahasa tertentu, atau menyebut aib mereka dengan maksud untuk bercanda dan membuat orang lain tertawa. Perbuatan ini sangat dilarang.

- Canda yang berisi tuduhan dan fitnah terhadap orang lain.
Kadang kala ini juga terjadi, terlebih bila canda itu sudah lepas kontrol. Sebagian orang bercanda dengan temannya lalu ia mencela, memfitnahnya, atau menyifatinya dengan perbuatan keji. Seperti ia mengatakan kepada temannya, ‘hai anak hantu,’ dan kata-kata sejenisnya untuk membuat orang tertawa. Sangat disayangkan, hal seperti ini nyata terjadi di tengah orang-orang kebanyakan dan jahil. Oleh karena itu, hendaklah kita jangan keterlaluan dalam bercanda, sehingga melampui batas.

6. Hindari Bercanda Dengan Aksi Dan Kata-Kata Yang Buruk.
Banyak orang yang tidak menyukai bercanda seperti ini. Dan seringkali berkembang menjadi pertengkaran dan perkelahian. Sering kita dengar kasus perkelahian yang terjadi berawal dari canda. Maka tidak sepatutnya bercanda dengan aksi kecuali dengan orang yang sudah terbiasa dan bisa menerima hal itu. Sebagaimana para sahabat saling melempar kulit semangka setelah memakannya. [13]

Adapun bercanda dengan kata-kata yang buruk tidak dibolehkan sama sekali. Allah Subhanahu wa Ta'ala telah berfirman:

وَقُل لِّعِبَادِي يَقُولُوا الَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنزَغُ بَيْنَهُمْ ۚ إِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ لِلْإِنسَانِ عَدُوًّا مُّبِينًا

Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku: “hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya setan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia”. [al-Isrâ`/17:53].

7. Tidak Banyak Tertawa.
Banyak orang yang tertawa berlebihlebihan sampai terpingkal-pingkal ketika bercanda. Ini bertentangan dengan sunnah. Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam telah mengingatkan agar tidak banyak tertawa, beliau bersabda :

وَيْلٌ للَّذِي يُحَدِّ ثُ فَيَكْذِبُ لِيُضْخِكَ بِهِ الْقَوْمَ ويْلٌ لَهُ وَيْلٌ لَهُ

“Janganlah kalian banyak tertawa. Sesungguhnya banyak tertawa dapat mematikan hati.”

Seperti yang telah dijelaskan di atas dari ‘Aisyah Radhiyallahu 'anha. Banyak tertawa dapat mengeraskan hati dan mematikannya.

8. Bercanda Dengan Orang-Orang Yang Membutuhkannya.
Seperti dengan kaum wanita dan anakanak. Itulah yang dilakukan oleh Nabi Shalalllahu 'alaihi wa sallam, yaitu sebagaimana yang beliau lakukan terhadap ‘Aisyah Radhiyallahu 'anha dan al Hasan bin Ali, serta seorang anak kecil bernama Abu ‘Umair.

9. Jangan Melecehkan Syiar-Syiar Agama Dalam Bercanda.
Umpamanya celotehan dan guyonan para pelawak yang mempermainkan simbol-simbol agama, ayat-ayat al-Qur‘an dan syiarsyiarnya, wal iyâdzu billâh! Sungguh perbuatan itu bisa menjatuhkan pelakunya dalam kemunafikan dan kekufuran.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

يَحْذَرُ الْمُنَافِقُونَ أَن تُنَزَّلَ عَلَيْهِمْ سُورَةٌ تُنَبِّئُهُم بِمَا فِي قُلُوبِهِمْ ۚ قُلِ اسْتَهْزِئُوا إِنَّ اللَّهَ مُخْرِجٌ مَّا تَحْذَرُونَ وَلَئِن سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ ۚ قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ

Orang-orang munafik itu takut akan diturunkan terhadap mereka sesuatu surat yang menerangkan apa yang tersembunyi di dalam hati mereka. Katakanlah kepada mereka: “Teruskanlah ejekanejekanmu (terhadap Allah dan Rasul-Nya)”. Sesungguhnya Allah akan menyatakan apa yang kamu takuti. Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentu mereka akan menjawab: “Sesungguhnya kami hanya bersenda gurau dan bermain-main saja”. Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayatayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolokolok?”. [at-Taubah/9:64-65]

Dan mengangungkan syiar agama merupakan tanda ketakwaan hati. Allah berfirman:

ذَٰلِكَ وَمَن يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِن تَقْوَى الْقُلُوبِ

Dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati. [al-Hajj/22:32].

Demikianlah, semoga dengan tulisan ini kita bisa mengetahui kedudukan bercanda dalam pandangan Islam, mengetahui canda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan batasan-batasan yang dibolehkan dalam bercanda. Sehingga kita dapat membedakan antara bercanda yang dibolehkan dan yang tidak dibolehkan.

Maraji‘:
1. Tafsîr al-Qur‘ânil-’Azhîm, Imam Ibnu Katsîr.
2. Bahjatun-Nâzhirîn Syarh Riyâdhish-Shâlihîn, Syaikh Salîm bin ‘Id al-Hilâli.
3. Durruts-Tsamîn min Riyâdhish-Shâlihîn, ‘Abdul-’Azîz Sa’ad al-’Utaibi.
4. Mausû’ah al-Adabil-Islâmiyyah, ‘Abdul Azîz bin Fathis-Sayyid Nadâ, Dâruth-Thayyibah, Cetakan Kedua, Tahun 1425 H – 2004 M.
5. Shahîh al-Jami’ish-Shaghir, Syaikh Muhammad Nâshiruddîn al-Albâni, al-Maktab al-Islami, Cetakan Ketiga, Tahun 1410 H – 1990.
6. Silsilatul Ahâdits Shahîhah, Syaikh Muhammad Nâshiruddîn al-Albâni, disusun oleh Syaikh Abu ‘Ubaidah Masyhur Hasan Salman, Maktabatul-Ma’ârif, Riyadh, Cetakan Pertama.
7. Sirah Shahîhah, Dhiyâ al-‘Umari. 8. Sunan Abu Dawud, Tashih: Syaikh Muhammad Nâshiruddîn al-Albâni, dan disusun oleh Syaikh Abu ‘Ubaidah Masyhur Hasan Salman, Maktabatul-Ma’ârif, Riyadh, Cetakan Pertama.
9. Yaumun fî Baiti Rasulillah, ‘Abdul-Malik bin Muhammad al-Qâsim, Darul-Qasim, Cetakan Pertama, Tahun 1419 H.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 09/Tahun XI/1428H/2007M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondanrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]
_______
Footnote
[1]. Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhâri dan Imam Muslim.
[2]. Diriwayatkan oleh Ahmad dengan sanad yang shahîh.
[3]. Diriwayatkan oleh Ahmad (III/117, 127, 242, 260), Abu Dawud (5002), at-Tirmidzi (1992). Lihat Shahîh al- Jâmi’ (7909).
[4]. Diriwayatkan oleh Abu Dawud.
[5]. Diriwayatkan oleh Ahmad (III/161), at-Tirmidzi dalam asy-Syamil (229), al-Baghawi dalam Syarh Sunnah (3604).
[6]. Abu Dawud (4998), dan at-Tirmidzi (1991) dari Anas. Shahîh Abu Dawud (4180).
[7]. Muttafaqun ‘Alaihi, Shahîh al-Bukhâri, sebagaimana terdapat dalam Fathul-Bari (9/325), Shahîh Muslim (3/1890, hadits nomor 2439).
[8]. Lihat Silsilah Ahâdîts Shahîhah, nomor hadits 70.
[9]. Diriwayatkan oleh Abu Dawud (5003), dan at-Tirmidzi (2161). Lihat Shahîh Abu Dawud (4183).
[10]. Diriwayatkan oleh Abu Dawud (5004). Lihat Shahîh Abu Dawud (4184).
[11]. Diriwayatkan oleh ath-Thabrâni dalam al-Kabir (XII/13443). Lihat Shahîh al-Jâmi’ (2494).
[12]. Diriwayatkan oleh Ahmad (V/5), Abu Dawud (4990), at-Tirmidzi (2315). Lihat Shahîh al-Jâmi’ (7126).
[13] Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhâri dalam al-Adabul-Mufrad, hlm. 41. Lihat as-Silsilah ash-Shahîhah (436).

Sumber: almanhaj.or.id
0 komentar

Dua Usaha yang Tidak Akan Bisa Disatukan

Saudaraku kaum muslimin ! Sesungguhnya aturan dalam syari'at Islam yang mulia ini telah mencakup seluruh aspek kehidupan manusia dan memberi solusi terbaik untuk individu maupun masyarakat. Syari'at juga mengatur bagaimana seharusnya manusia berinteraksi dengan Allâh, berintraksi dengan sesama. Semua aturan dan solusi yang dibawakan dalam syari'at ini tidak keluar dari batas kehalalan atau perkara mubah yang disyari'atkan, yang sentiasa menjaga hak-hak, memelihara kemaslahatan serta menyingkirkan bahaya dan kerusakan.

Sebagaimana Islâm mensyari'atkan aqidah yang benar dan ibadah mulia yang bisa menghubungkan seorang hamba dengan Rabbnya, jika dipraktekkan sesuai dengan petunjuk al-Qur’ân dan Sunnah; Islam juga telah menggariskan suatu manhaj yang lurus yang mengatur muamalah (intraksi) antara manusia. Sebuah manhaj yang diatur dengan kaidah-kaidah syar’i dan adab-adab yang harus dijadikan pedoman dalam bermu'amalah. Dengan demikian, tidak ada kekacauan, tidak ada tindakan zhalim, permusuhan, melampaui batas, merampas, menipu, mangkir dari hutang, berbuat curang dan berbagai tindakan buruk lainnya. Yang ada hanya keadilan, saling menghormati, jujur, transparan dan penjagaan terhadap hak-hak orang lain.

Allâh Azza wa Jalla berfirman dalam surat an-Nisâ/4:29-30

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ ۚ وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا﴿٢٩﴾وَمَنْ يَفْعَلْ ذَٰلِكَ عُدْوَانًا وَظُلْمًا فَسَوْفَ نُصْلِيهِ نَارًا ۚ وَكَانَ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرًا

Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian saling memakan harta sesamamu dengan cara yang bathil kecuali lewat perdagangan yang dilandasi rasa suka sama suka diantara kalian, dan janganlah kalian membunuh diri akalian. Seseunggunya Allâh Maha Penyayang kepadamu. Dan barangsiapa yang berbuat demikian dengan cara melanggar hukum dan dzalim akan Kami masukkan dia ke neraka. Yang demikian itu mudah bagi Allâh.

Allâh Azza wa Jalla juga berfirman :

وَلَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ وَتُدْلُوا بِهَا إِلَى الْحُكَّامِ لِتَأْكُلُوا فَرِيقًا مِنْ أَمْوَالِ النَّاسِ بِالْإِثْمِ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Dan janganlah kalian makan harta diantara kalian dengan jalan yang bathil, dan janganlah kalian menyuap dengan harta itu kepada para hakim dengan maksud agar kalian dapat memakan sebagian harta orang lain itu dengan cara dosa padahal kamu mengetahui. [al-Baqarah/2:188]

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam khutbah di Arafah :

إِنَّ دِمَاءَكُمْ وَ أَمْوَلَكُمْ عَلَيْكُمْ حَرَامٌ كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا فِي شَهْرِكُمْ هَذَا فِي بَلَدِكُمْ هَذَا (رواه مسلم)

Sesungguhnya darah kalian haram atas kalian seperti haramnya hari ini, di bulan ini dan di negeri ini [HR. Muslim dan yang lain-lain]

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda :

إِنَّ اللهَ طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إلاَّ طَيِّبًا وإنَّ اللهَ تَعَالىَ أمَرَ المُؤْمِنِيْنَ بِمَا أمَرَ بِهِ المُرْسَلِيْنَ, فَقَالَ : ﴿ يَأيُّهَا الرُسُلُ كُلُوا مِنَ الطَيِّبَاتِ وَ اعْمَلُوا صَلِحًا إنِّى بِمَا تَعْملُوْنَ عَلِيْمٌ ﴾ وَقَالَ :﴿يَأَيُّهَا الذِيْنَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَ رَزَقْنَاكُمْ﴾ ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيْلُ السَفَرَ, أشْعَثَ أغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إلىَ السَمَاءِ يَا رَبِّ ! يَا رَبِّ ! وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَ غُذِيَ بِالحَرَامِ فَأنَّى يُسْتَجَابُ لِذَالِك

Sesungguhnya Allâh itu baik dan tidak menerima kecuali yang baik. Sesungguhnya Allâh memerintahkan kaum mukminin sebagaimana Allâh memerintahkan para rasul-Nya. Lalu Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca (firman Allâh Azza wa Jalla yang artinya),“Wahai para Rasul ! Makanlah dari (makanan) yang baik-baik dan kerjakanlah kebajikan. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kaalian kerjakan”(al Mukminûn/23:51). Dan firman Allâh(yang artinya), “Wahai orang-orang yang beriman ! Makanlah dari rejeki yang baik yang Kami berikan kepada kalian dan bersyukurlah kepada Allâh, jika kamu hanya beribadah kepada-Nya”. (al-Baqarah/2:172). Kemudian Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisahkan tentang seorang yang sedang melakukan perjalan jauh, rambutnya kusut dan kakinya berdebu, ia menadahkan tangannya ke langit, dia berdo’a : "Ya Rabb… Ya Rabb.., Padahal makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan ia tumbuh dengan sesuatu yang haram, maka bagaimana mungkin do’anya akan dikabulkan ?! [HR. Muslim, no.1015]

Sudah merupakan kewajiban bagi seorang muslim ketika bermuamalah (seperti dalam jual beli, utang-piutang, gadai dan perniagaan) untuk berlaku sesuai dengan syari'at Allâh Azza wa Jalla . Karena semuanya telah diatur dalam syari'at kita. Betapa banyak orang yang tersesat karena membatasi pemahaman dien ini hanya dalam ibadah saja. Mereka memisahkan agama ini dengan kehidupan nyata dan dengan aturan-aturan dalam bermu'amalah. Sehingga mereka memberlakukan harta titipan Allâh Azza wa Jalla semaunya. Mereka tidak peduli, apakah harta mereka dari usaha halal atau haram ? Mereka berusaha tidak menjauhkan diri dari muamalah atau cara-cara yang haram dalam memperoleh harta. Cinta dunia telah menguasai jiwa mereka. Mereka terfitnah dengan harta. Mereka tinggalkan agamanya demi meraih dunia yang sangat sedikit. Na'udzubillah. Mereka lupakan kewajiban mempertanggungjawabkan amalan dihadapan Allâh Azza wa Jalla . Mereka tidak takut resiko buruk kelakukan mereka. Allâh Azza wa Jalla berfirman :

وَسَيَعْلَمُ الَّذِينَ ظَلَمُوا أَيَّ مُنْقَلَبٍ يَنْقَلِبُونَ

.. Dan orang-orang yang zhalim akan tahu ke tempat mana mereka akan kembali. [Asy Syu’arâ/26:227]

Sesungguhnya baik dan buruknya usaha yang dilakukan oleh seseorang akan menimbulkan pengaruh yang sepadan pada diri pelaku sendiri, jika baik maka baik pengaruhnya begitu pula sebaliknya. Dalam sebuah riwayat disebutkan :

كُلُّ لَحْمٍ نَبَتَ مِنْ سُحْتٍ فَالنَّارُ أَوْلَى بِهِ

Setiap daging yang tumbuh dari yang tidak halal, maka neraka yang lebih utama baginya. [HR. Ahmad 3/321, Tirmidzi, no. 614, Ibnu Hibbân, no. 1723, dan Thabrani dalam al-Mu'jamul Kabîr, 19/136 dari Jâbir bin Abdullâh dan Ka’ab bin ‘Ujrâh Radhiyallahu anhuma]

Imam Ahmad rahimahullah juga Baihaqi rahimahulla dalam Syu’abul Iman membawakan riwayat dengan sanad hasan dari Ibnu Mas’ûd Radhiyallahu anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

وَلاَيَكْسِبُ عَبْدٌ مَالاً مِنْ حَرامٍ فَيُنفِقُ مِنْهُ فَيُبَارَكَ لَهُ فِيْهِ وَلاَ يَتَصَدَّقَ بِهِ فَيُقْبَلَ مِنْهُ وَلاَيَتْرُكُهُ خَلْفَ ظَهْرِهِ إلاَّ كاَنَ زَادَهُ إلى النّارِ إنَّ اللّهَ لاَ يَمْحُوْ السَّيْءَ بِالسَّيْءِ وَلكِنْ يَمْحُوْ السَّيْءَ بِالْحَسَنِ إنَّ الْخَبِيْثَ لاَ يَمْحُوْ الْخَبِيْثَ

Tidak ada orang yang memperoleh harta dengan cara haram lalu diinfakkan kemudian diberkahi, atau disedekahkan lalu diterima sedekahnya, tidak juga ditinggal mati melainkan hanya akan lebih mendekatkan dirinya ke neraka. Sesungguhnya Allâh tidak menghapus keburukan dengan keburukan, akan tetapi Allâh menghapus keburukan dengan kebaikan. Sesungguhnya kejelekan tidak bias menghapus kejelekan [Musnad 1/387 dan Syu’abul Iman 5524].

Dengan ini kita tahu bahwasa bisnis dan muamalah yang haram merupakan penyebab keburukan, kekacuan dan fitnah di dunia serta adzab di akhirat kelak. Layakkah seorang muslim yang mendengar ancaman ini dan mengetahui bahayanya kemudian ia tidak peduli dengan usahanya ? Jika ya, maka disamping menunjukkan agama orang itu kurang juga merupakan cacat dan ketidakmampuannya untuk merenung.

Imam Bukhâri rahimahullah dalam shahihnya meriwatkan hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, Rasûlullâh bersabda :

يَأتِي عَلَى النَاسِ زَمَانٌ لاَ يُبَالِي المَرْءُ مَا أَخَذَ مِنْهُ أمِنَ الْحَلاَلِ أمْ مِنَ الحَرَامِ

Akan datang satu zaman kepada manusia. Saat itu orang sudah tidak peduli lagi dari mana mereka mengambil hartanya? Apakah dari hasil yang halal atau yang haram ? [HR. Bukhâri, no. 2059]

Perhatikanlah sekitar kita ! Bisnis haram dan usaha kotor begitu banyak dan mudah didapatkan bahkan mendominasi. Sehingga banyak kaum muslimin terjebak. Mereka berusaha meraih harta dengan cara menipu atau mengkhianati tugas yang dibebankan dipundaknya. Misalnya, seorang pegawai yang tidak sungguh-sungguh melaksanakan tugasnya atau bahkan mangkir dari tugasnya. Pegawai seperti ini berarti telah mengkhianati amanah yang dibebankan kepada dirinya. Pada saat yang sama berarti dia membiarkan dirinya terancam mengkonsumsi suatu yang haram yaitu gaji dari tugas yang tidak dia kerjakan. Bahkan terkadang dengan tanpa malu dia menerima uang sogok. Sekali lagi ini merupakan penipuan terhadap kaum Muslimin dan pengkhianatan terhadap pemimpin.

Contoh lainnya, seorang pedagang yang berbisnis dengan cara riba, utang-piutang yang diharamkan, menyembunyikan cacat barang saat berjualan, mengurangi takaran atau timbangan, atau berbisnis barang haram, seperti alat-alat musik, narkoba, khamer dan lain sebagainya.

Demikian juga orang yang menzhalimi para pekerja atau pembantunya, dengan menunda-nunda pembayaran gaji, apalagi kemudian tidak memberikan mereka gaji sama sekali.

Termasuk juga orang-orang yang berkecimpung dalam perjudian, lotre dan asuransi yang bathil. Juga orang-orang yang menumpuk harta dengan cara merampas, menipu atau berbohong, baik membohongi individu atau instansi resmi pemerintah.

Semua yang disebutkan adalah secuil dari sekian banyak contoh perilaku haram disekitar kita yang tidak mampu disebutkan oleh lisan karena malu kepada Allâh Azza wa Jalla . Namun amanah lidah yang dibebankan oleh Allâh Azza wa Jalla kepada kita menuntut kita memberikan peringatan kepada seluruh kaum Muslimin agar menjauhi berbagai praktek haram ini.

Semoga Allâh Azza wa Jalla senantiasa membimbing langkah-langkah kita sehingga kita tidak terjerumus dalam kubangan praktek dan bisnis haram.

Praktek haram ini tidak hanya terjadi dalam bidang bisnis, bahkan –na'udzubillah- terjadi juga di lembaga yang mestinya menjadi penegak hukum. Ya, itulah lembaga peradilan. Akhir-akhir ini sering kita dengar atau baca tentang kisruh yang melanda lembaga-lembaga itu, akibat ulah-ulah para pengkhianat amanat dalam merekaya kasus demi memenangkan pihak-pihak tersalah namun berkantong tebal. Hasrat mereka untuk menegakkan hukum takluk dan bertekuk lutut pada kerakusan jiwa terhadap materi. Mereka tertipu dengan kilauan harta yang digambarkan setan. Nas'alullah 'afiyah. Semoga Allah melindungi kita dari segala tindakan yang bisa merugikan kaum Muslimin atau merampas hak-hak mereka.

Hendaknya kita senantiasa menanamkan ketaqwaan dalam diri kita didalam melakukan segala tindakan.

Wahai kaum Muslimin yang menjadi pedagang ! Hendaklah kalian berlaku jujur kepada Allâh Azza wa Jalla dan juga kepada manusia. Jauhilah segala tindak kedzaliman dan penipuan kepada manusia. Alangkah beruntung dan berbahagianya orang memliki usaha baik dan halal ! Dan alangkah celaka orang-orang yang badannya tumbuh dari suatu yang haram. Hendaklah mereka segera bertaubat kepada Allâh Azza wa Jalla . Semoga Allâh Azza wa Jalla berkenan menerima taubat kita semua.

Kalau kita ingin selamat dari murka Allâh Azza wa Jalla , maka hendaknya kita berusaha melepaskan dan membebaskan diri kita dari segala hak-hak orang lain yang pernah kita zhalimi sebelum ajal datang menjemput. Jika ajal sudah menjemput sementara hak-hak itu belum sempat kita serahkan, maka hanya penyesalan akan mendera kita. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ كَاَنَتْ عِنْدَهُ مَظْلِمَةٌ لأخِيْهِ, مِنْ مَالٍ أوْ عِرْضٍ فَليَأتِِهِ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْ قَبْلِ أنْ يُؤْخَذَ مِنْهُ, وَ لَيْسَ ثَمَّ دِيْنَارٌ وَلاَ دِرْهَمٌ فَإنْ كَانَتْ لَهُ حَسَنَاتٌ أخِذَ مِنْ حَسَنَاتِهِ لِصَاحِبِهِ وَ إلاّ أخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ صَاحِبِهِ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ

Barangsiapa yang pernah berbuat kedzaliman kepada saudaranya pada harta atau kehormatannya, maka hendaklah ia bergegas mendatanginya lalu meminta dihalalkan sebelum nyawanya dicabut. Ketika itu dinar dan dirham sudah tidak ada lagi. Apabila ia memiliki kebaikan maka kebaikan itu akan diambil dan diserahkan kepada orang yang ia dzalimi. Jika tidak memiliki kebaikan, maka keburukan orang yang ia dzalimi akan diambil kemudian dibebankan kepadanya (pelaku kezhaliman). [HR. Bukhâri, no. 2449, 6534 dari hadits Abu Hurairah Radhiyallahu anhu])

Kita berdo'a kepada Allâh, semoga Allâh menganurahkan rizki yang halal kepada kita semua. Ya Allah, cukupkanlah kami dengan rizki yang halal dari-Mu dan jadikanlah kami tidak butuh pada yang haram.

Wahai kaum Muslimin, hendaknya kita senantiasa bertaqwa kepada Allâh dan selalu berpegang teguh dengan syari'at-Nya yang full dengan kebaikan. Hendaknya kita memperhatikan halal dan haram. Jika kita mendapatkan kesulitan, maka hendaknya kita bertanya kepada para Ulama. Hendaknya kita menjauhi perkara-perkara yang syubhat (yang belum jelas hukumnya) apalagi yang haram.

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إنَّ الحَلاَلَ بَيِّنٌ وَإنَّ الْحَرَامَ بَيِّنٌ وَبَيْنَهُمَا مُشْتَبِهَاتٌ لاَيَعْلَمُهُنَّ كَثِيْرٌ مِنَ النَّاسِ فَمَنِ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ اسْتَبْرَأَ لِدِيْنِهِ وَعِرْضِعهِ وَمَنْ وقَعَ فِي الشُّبْهَاتِ وَقَعَ فِي الْحَرَامِ

Sesungguhnya perkara yang halal itu jelas dan perkara yang haram itu jelas dan diantara keduanya ada perkara syubhat yang tidak diketahui oleh banyak orang. Barangsiapa yang menjauhkan dirinya dari perkara syubhat, sungguh ia telah menyelamatkan agama dan kehormatannya. Dan barangsiapa yang terjerumus kedalam perkara yang syubhat, maka ia terjerumus dalam perkara yang haram.[HR.Bukhâri, no. 52; Muslim, no. 1599 dari Nu’mân bin Basyîr Radhiyallahu anhu]

Hendaklah kita mnghiasi diri kita dengan sifat jujur dan amanah dalam setiap perbuatan dengan landasan ikhlas kepada Allâh, agar apa yang kita dapatkan menjadi halal. Karena harta halal akan mendatangkan barakah bagi kita, keluarga dan masyarakat. Ingatlah, pada tiap rupiah yang kita hasilkan itu akan ada pertanyaan yang mesti kita jawab, darimana kita memprolehnya dan dibelanjakan untuk apa ? Marilah kita berlaku jujur dalam segala aktifitas. Semoga Allah k menggolongkan kita kedalam para hamba-Nya yang berbahagia dan beruntung di dunia dan akhirat.

(Diangkat oleh ustadz Raditya dari Kaukabah, al-Khutabul Muniifah, hlm.317)

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 03/Tahun XIV/1431H/2010. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]

Sumber: almanhaj.or.id
0 komentar
 
Official Website: West Sumatra Nurul Qur'an Foundation
Copyright © 2014. Yayasan Nurul Qur'an Sumbar - All Rights Reserved